Ia menambahkan, kondisi alam, ketersediaan lahan, serta dukungan pemerintah daerah menjadi faktor penting dalam pengembangan industri unggas modern. Program ini diharapkan mampu memperkuat sistem produksi pangan nasional sekaligus menopang ketahanan dan kedaulatan pangan secara berkelanjutan.
Pengembangan kawasan hilirisasi ayam terintegrasi di Gorontalo Utara dirancang tersebar di beberapa lokasi strategis. Selain Desa Tolongio sebagai pusat pabrik pakan, kawasan pendukung lainnya meliputi Desa Motilhelumo, Kecamatan Sumalata Timur seluas tiga hektare, Desa Putiana, Kecamatan Anggrek seluas 2,5 hektare, serta Desa Dambalo, Kecamatan Tomilito dengan luas mencapai 10 hektare.
Masing-masing lokasi memiliki fungsi berbeda dalam sistem terintegrasi tersebut. Desa Motilhelumo direncanakan sebagai kawasan pullet, Desa Dambalo untuk PS layer, sementara Desa Putiana akan dibangun Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) dan fasilitas cold storage. Seluruh kawasan ini akan terhubung dalam satu rantai produksi unggas yang efisien dan berkelanjutan.
Bupati Gorontalo Utara, Thariq Modanggu, menyebut momentum groundbreaking ini sebagai tonggak bersejarah bagi daerahnya. Menurutnya, program hilirisasi ayam terintegrasi merupakan hasil dari perjuangan panjang pemerintah daerah dalam menghadirkan industri peternakan yang terstruktur dan berdaya saing.
“Program ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya para peternak di Gorontalo Utara,” kata Thariq.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat, pemerintah provinsi, serta seluruh pihak yang terlibat dalam menyukseskan program tersebut. Groundbreaking ini dinilai sebagai langkah awal transformasi sektor peternakan di Gorontalo Utara sekaligus menegaskan peran daerah dalam penguatan industri pangan nasional.














