Bagi Ronal, duka ini bukan hanya tentang kehilangan seorang sahabat. Lebih dari itu, ini menjadi pengingat untuk memperbaiki sistem pengkaderan organisasi pecinta alam agar lebih menekankan pembinaan fisik, mental, serta kecintaan terhadap lingkungan.
“Ke depan, kami akan berbenah. Pecinta alam harus kembali pada ruhnya, yakni mencintai kehidupan, mencintai alam, dan menjaga kelestariannya,” ujarnya.
Suasana hening menyelimuti lapangan. Cahaya lilin yang berkelip seakan menjadi saksi persaudaraan tanpa sekat, menyatukan duka ratusan orang yang hadir malam itu. Aksi damai ini berlangsung tertib dengan pengawalan personel Polresta Gorontalo Kota.
Bagi keluarga, sahabat, dan komunitas pecinta alam, nama Muhamad Jeksen mungkin telah pergi bersama waktu. Namun, malam itu, cahaya lilin yang menyala menjadi simbol bahwa kenangannya akan tetap hidup dalam hati mereka.













