“Sejak awal kita sudah minta ke supplier untuk buang kepala ikan teri. Kendalanya di tenaga kerja karena yang kita pesan 85 Kg,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa sebelum didistribusikan, semua menu terlebih dahulu diuji coba oleh tim gizi.
“Saat saya coba, ikan terinya tidak keras seperti yang dikeluhkan karena dimasak oleh koki bersertifikat,” ujarnya.
Fikti juga menjelaskan bahwa menu berbeda disiapkan bagi kelompok paling rentan.
“Untuk balita kami ganti dengan telur. Sedangkan ibu hamil, menyusui, dan anak sekolah tetap ikan teri balado,” jelasnya.
Fikti berharap keluhan orang tua disampaikan langsung kepada pihak SPPG atau melalui sekolah, bukan hanya lewat media sosial.
“Jika ada menu yang tidak disukai, silakan sampaikan ke sekolah atau langsung ke kami. Jangan dulu ke media sosial,” imbaunya.
Ia menegaskan, perubahan skema MBG menjadi uang saku bukan kewenangan SPPG, melainkan keputusan Badan Gizi Nasional.
Selain itu, Fikti memastikan pihaknya siap bertanggung jawab jika terjadi hal yang tidak diinginkan.
“Kalau ada siswa yang alergi dengan menu yang kita distribusikan, tolong melapor. Kami yang akan bertanggung jawab membawa ke puskesmas,” pungkasnya.
Sejak Februari lalu, ikan teri kering diperkenalkan dalam program MBG sebagai bagian dari upaya diversifikasi menu serta pengenalan sumber gizi lokal yang kaya protein, kalsium, dan omega-3.