Ia mencontohkan, jika margin Rp2 ribu per porsi dengan layanan 3.000 porsi, keuntungan yang diperoleh bisa mencapai Rp150 juta per bulan atau Rp1,8 miliar per tahun.
Untuk memperpendek rantai distribusi, Prof Agus mengusulkan dua alternatif. Pertama, memanfaatkan kantin sekolah agar makanan lebih segar, terkontrol, sekaligus memberdayakan UMKM sekitar sekolah. Kedua, menyalurkan dana MBG secara tunai kepada siswa dengan panduan teknis dari BGN.
“Biarkan orang tua menyiapkan bekal untuk anak-anaknya. Guru dapat ikut mengawasi di sekolah. Jika anak tidak membawa bekal, orang tua bisa diberi peringatan,” katanya.
Prof Agus menekankan, mekanisme semacam ini bisa menghindari praktik rente dan menyalurkan manfaat program secara lebih tepat.
“Masih belum terlambat, mari kita perpendek rantai distribusi MBG agar lebih efektif dan hilangkan cara-cara kotor memburu rente. MBG harus benar-benar Makan Bergizi Gratis bagi siswa,” pungkasnya.













